• gina

Deforestasi Tanah Papua sama dengan Climate Bomb


Deforestasi Hutan Papua /suarapusaka

Papua adalah rumah bagi lebih dari sepertiga hutan utuh di Indonesia. Mendaulat Papua sebagai ‘surga kecil’, suatu negeri terindah di dunia bukanlah hal yang berlebihan. Alamnya begitu kaya. Mulai dari kekayaan di dalam perut bumi seperti emas, minyak dan gas, biji besi hingga uranium, hingga ke daratannya seperti hutan belantara, keanekaragaman spesies flora dan fauna. Tidak diragukan jika masyarakat lokal Papua sangat menggantungkan kehidupan dan mata pencahariannya dengan alam.


Akan tetapi, ternyata mengelola aset “hidup” ini tidaklah mudah. Selama ini, keanekaragaman hayati oleh pihak-pihak ‘tertentu’ dianggap sebagai sumber daya yang tidak bisa habis bila dimanfaatkan secara terus-menerus.

Dilansir pada laman, trubus.id, sudah beberapa tahun terakhir, akitivitas pembalakan liar dan peredaran kayu illegal marak di Papua. Belakangan diketahui, hal tersebut disebabkan oleh kekosongan petugas kehutanan di wilayah tersebut. Berita tersebut pun diperkuat dengan data citra satelit yang dipublikasi oleh Greenpeace baru-baru ini yang berjudul “Forest clearing for oil palm plantations mapped between 2015 and 2018”.


Informasi ini senada dengan Harian Suarapapua, warga mengklaim perusahaan membabat hutan adat dan memberi uang ganti rugi yang tidak sepadan. Saat itu tidak sedikit penduduk yang tadinya bertani karet kehilangan sebagian pemasukan setelah bergabung menjadi buruh sawit, Papua mengalami hilangnya tutupan pohon yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2015 dan 2016.


Deforestasi sendiri menyumbang seperempat dari total greenhouse gas/Gas Rumah Kaca (GRK) secara global. Pemerhati lingkungan yang concern terhadap hutan dan masyarakat adat Papua, Bustar Maitar, mengungkapkan bahwa deforestasi sama dengan Climate Bomb!


Menurutnya jika masalah deforestasi secara global tidak tertangani dengan baik, maka negeri ini gagal dalam menangani permasalahan perubahan iklim. Tingkat emisi di Papua masih tergolong rendah karena terselamatkan oleh banyaknya hutan di wilayah tersebut. Apabila pembukaan lahan disertai dengan akitivitas pembakaran lahan terus terjadi maka dikhawatirkan mempercepat perubahan iklim.


“Jika akses pembukaan lahan tersebut terus berlanjut, maka kita hanya tinggal menunggu waktu seberapa lama hutan Papua akan dapat bertahan”, ungkap Bustar saat diwawancara langsung oleh penulis beberapa waktu lalu. Ekspansi perkebunan sawit adalah faktor terbesar dalam meningkatnya laju deforestasi di Indonesia.


Deforestasi yang terjadi di Papua telah berjalan sejak jaman Belanda masuk ke Indonesia. Saat itu Papua (yang pada masanya disebut ‘Irian Jaya’) belum bergabung dengan Indonesia, dijadikan tempat untuk mengambil bahan-bahan mentah dari hutan, dimana salah satunya adalah kayu. Bustar menambahkan bahwa, pembukaan lahan skala besar tersebut terjadi sejak awal tahun 80an hingga akhir 90an yang bermula dengan pembukaan lahan perkebunan terutama untuk perkebunan kelapa sawit, seperti di wilayah Sorong, Manokwari dan Jayapura, serta beberapa tempat lainnya.


“Akses ke Papua pada jaman itu sangatlah terbatas. Eksploitasi besar-besaran tersebut dilakukan dengan alasan untuk kepentingan pembangunan, pembukaan akses dan pemukiman transmigrasi”, ungkap Bustar.


Bustar menambahkan hampir 60% atau lebih hutan di Tanah Papua telah di kavling untuk kepentingan konsesi, baik itu konsesi kayu ataupun untuk perkebunan. “Jadi secara legal itu semua sudah diberikan izin oleh pemerintah ke perusahaan yang bersangkutan. Sayangnya, mereka tidak bersungguh-sungguh melihat dari sisi AMDAL. AMDAL hanya sebatas ‘stempel’, untuk menjalankan kegiatan apa yang mereka (perusahaan) ingin lakukan pada kepemilikan tanahnya, tanpa melihat faktor-faktor ancaman lingkungan yang akan terjadi kedepannya,” ujar Bustar.


Menurut Bustar solusi alternatif untuk mengurangi laju deforestasi khususnya di Papua adalah dengan memaksimalkan perkebunan kelapa sawit yang ada di wilayah. “Solusi alternatifnya juga bisa dengan memaksimalkan perkebunan kelapa sawit yang sudah ada di wilayah lain, seperti Sumatera dan Kalimantan sehingga tidak perlu lagi untuk membuka lahan baru terutama hutan di Papua,” pungkasnya.


Penulis: Sarah Rosemery M

0 views

Jakarta: @econusa | Papua: @pacebentara | Email : hutanpapua@gmail.com

©2018 @econusa.id for hutanpapua.id