• gina

Jutaan Spesies Hutan Boven Digoel Terancam


cr: palembangblog

Selama ini kami mencari makan di bawah kolong hutan, berburu, pancing, setiap hari pangkur sagu, cari makan, biar capek tapi itu sudah kita punya tugas dan tanggung jawab kita sampai hari ini. Anggaplah hutan itu sebagai kita punya mama, jadi makan dan minum semua di situ.


Sepenggal pernyataan ini adalah ungkapan dari Bonevasius Hamnagi, Kepala Marga Hamnagi, Kampung Anggai dalam video dokumenter pendek yang diproduksi oleh The Gecko Project, bekerja sama dengan Mongabay, Tempo, dan Malaysiakini.


Video dokumenter ini menceritakan betapa pentingnya hutan Boven Digoel bagi kehidupan masyarakat adat Papua, khususnya bagi Suku Auyu. Hutan Boven Digoel telah menjadi rumah dan sumber penghidupan mereka selama bertahun-tahun. Di hutan inilah segala sumber pangan melimpah, mulai dari daging binatang liar, sagu, dan buah-buahan. Aliran sungai yang mengalir bersih pun menjadi sumber air.


Pesatnya Industri Sawit Membahayakan Hutan

Menurut ahli biologi di Smithsonian Institution Bruce Beehler, yang dikutip mongabay.co.id, kawasan ini merupakan hamparan hutan terluas yang masih tersisa di Asia Pasifik. “Ketika Anda melihat pulau itu dari atas, bahkan sampai hari ini pun, sebagian besar yang Anda lihat adalah hamparan luas hutan hujan,” kata Bruce. “Saya dapat memastikan bahwa hutan Digoel sangat kaya dan kemungkinan memiliki jutaan spesies invertebrata, mikro-organisme, dan tumbuhan lain.”


Bruce Beehler pernah menghabiskan empat dekade untuk mempelajari pohon dan burung di Papua. “Mereka mungkin menyimpan bermacam hal yang belum diketahui dan kelak bisa sangat berguna bagi umat manusia di masa depan jika kita dapat mengenali dan memahami mereka,” ujarnya.


Sayangnya pemandangan kelimpahan sumber daya alam Boven Digoel kian memudar seiring hilangnya sebagian hutan di wilayah ini yang digantikan dengan lahan perkebunan kelapa sawit. Perkebunan sawit berskala besar telah menjadi salah satu penyebab utama hilangnya hutan-hutan di Indonesia selama dua puluh tahun terakhir.


Berdasarkan data yang dikumpulkan dan diolah divisi riset Yayasan Econusa, Boven Digoel menempati urutan kedua sebagai wilayah yang paling luas dibuka sebagai perkebunan kelapa sawit, yakni sebesar 18 persen atau pembukaan lahan sebesar 218.719,1534 hektar, setelah Merauke yang lahannya telah dibabat 314.832,3264 hektar.


Proyek Tanah Merah, Membabat 4 Kali Luas Jakarta

Pembabatan hutan besar-besaran di Boven Digoel dikenal sebagai proyek Tanah Merah, proyek raksasa dengan berbagai teka-teki terkait pembangunan perkebunan sawit berskala besar. Berkat adanya Proyek Tanah Merah ini penghancuran hutan Boven Digoel pun berlanjut.


Seperti yang dilansir pada laman mongabay.co.id, para pemegang saham proyek ini kebanyakan hanyalah kedok. Berbagai modus mereka lakukan, antara lain dengan memakai perusahaan-perusahaan cangkang (shell companies) beralamat palsu, peminjaman nama sejumlah orang sebagai pemegang saham (fake and proxy shareholders), juga pendaftaran perusahaan di tempat-tempat yang tidak mudah untuk menelusuri identitas para pemegang saham maupun pemilik sebenarnya dari perusahaan itu (secrecy jurisdiction).


“Mereka bagai boneka. Perusahaan-perusahaan itupun layaknya tameng yang menyembunyikan aktor sebenarnya yang mendapat manfaat dari proyek itu,” dikutip pada laman mongabay. Ketika proyek hendak dimulai, Bupati Boven Digoel kala itu, Yusak Yaluwo, ditangkap dan dipenjara di Jakarta atas korupsi anggaran daerah. Dari hasil penelusuran ini, terkuak bahwa Yusak menandatangani dokumen-dokumen penting proyek ini dari balik penjara.


Para pemimpin masyarakat adat pun berupaya sekuat tenaga unuk menolak perusahaan yang telah mengusik sumber daya alam di Boven Digoel. Mereka menolaknya karena adanya ancaman hilangnya tanah dan budaya, hilangnya tempat masyarakat menyelenggarakan ritual budaya dan memperoleh atribut adat, hilangnya sumber pangan untuk pemenuhan hidup dan mata pencaharian masyarakat, serta hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan lingkungan dan konflik sosial.


Proyek Tanah Merah ini juga ancaman terbesar bagi kelangsungan hutan di Indonesia. Deforestasi yang terjadi di Boven Digoel ini menghasilkan efek gas rumah kaca yang dampak buruknya berpengaruh bukan hanya pada Indonesia tapi pada seluruh planet Bumi.


Dilansir pada laman geckoproject.id, proyek Tanah Merah mencakup area sebesar 2.800 kilometer persegi. “Itu setara dengan lebih dari empat kali DKI Jakarta. Saat ini, baru sekitar dua persen saja area yang telah dibabat. Jika kelak proyek itu selesai, maka jumlah emisi karbon yang dikeluarkan akan jauh lebih tinggi dibandingkan pembakaran bahan bakar fosil yang diproduksi oleh negara maju seperti Belgia setiap tahunnya,” tulis geckoproject.id dalam situsnya.


Proyek Tanah Merah sendiri menjadi semacam ujian untuk mengetes komitmen internasional Indonesia terkait penghentian laju deforestasi. Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 8 Tahun 2018 yang menekankan pelarangan sementara terhadap izin baru untuk perkebunan sawit.


Sayangnya, moratorium sawit ternyata tidak serta merta menghentikan penghancuran hutan yang sedang terjadi. Sebab, sebelum kebijakan tersebut diberlakukan, telah terbit izin-izin konsesi perkebunan sawit terhadap ratusan ribu hektar hutan.


Masih ada jalan untuk selamatkan Boven Digoel

Namun masih terbuka celah untuk menyelamatkan hutan-hutan yang hendak dibabat dan ditanami sawit tersebut jika ditemukan alasan kuat untuk pencabutan izin.


Tak terbatas pada moratorium saja, Inpres mengamanatkan peninjauan terhadap semua izin yang sudah ada. Bagi perusahaan-perusahaan yang terbukti telah melanggar proses perizinan dan gagal mengakui keberadaan dan hak-hak masyarakat, harus dengan tegas dicabut izinnya.


Dan di sinilah kita bisa mengingatkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk meninjau ulang izin pembukaan lahan seluas empat kali Jakarta di Boven Digoel itu. Menjadi tugas kita bersama untuk ikut menjaga kelangsungan Hutan Boven Digoel, karena kelanjutan hidup hutan ini berdampak bagi kelanjutan hidup kita sebagai penduduk Bumi.




Penulis: SRM


Sumber:

https://geckoproject.id/tujuh-hal-penting-tentang-proyek-perkebunan-sawit-raksasa-di-papua-3b25b80a92df

https://www.mongabay.co.id/2019/02/11/kesepakatan-rahasia-hancurkan-hutan-papua-berikut-foto-dan-videonya/

https://www.matamatapolitik.com/jakarta-didesak-untuk-selidiki-proyek-minyak-kelapa-sawit-di-papua/

Infografis Luas Perkebunan Kelapa Sawit di Papua oleh Divisi Riset Econusa

0 views

Jakarta: @econusa | Papua: @pacebentara | Email : hutanpapua@gmail.com

©2018 @econusa.id for hutanpapua.id