• gina

Kayu, Bambu, dan Rotan -- Alat Buru Penjaga Hubungan Manusia dengan Alam



Rusa dan babi liar hampir bisa ditemukan di seluruh wilayah pulau Papua. Selain burung, kedua mamalia ini adalah juga hewan yang paling banyak diburu di Papua. Misalnya perburuan rusa oleh masyarakat di sepanjang pesisir semenanjung Kepala Burung Papua (Pattiselanno, 2015).


Papua memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Sebagai habitat bagi berbagai spesies fauna khas Australis seperti mamalia marsupialia dan beberapa jenis burung, Papua memiliki hutan tropis terluas di Indonesia. Seperti di provinsi Papua Barat, luas hutan tropisnya mencapai lebih dari 9,7 juta hektar atau 90 persen dari luas wilayahnya. Sehingga secara alamiah hutan menjadi sumber penghidupan masyarakat pedalaman Papua, mulai dari bercocok tanam hingga berburu.


Perburuan satwa di hutan-hutan tropis merupakan kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat tradisional sebagai cara bertahan hidup. Menurut kajian ilmiah Freddy Pattiselanno dan George Mentansan dalam jurnal Makara, Sosial Humaniora Vol.14 (2010), perburuan satwa merupakan bagian dari budaya tradisional di wilayah tropis. Selain sudah menjadi budaya turun temurun, perburuan satwa juga meningkatkan ekonomi masyarakat pedalaman.


Dalam kehidupan modern sekarang ini beberapa kelompok etnis di Papua masih sangat bergantung pada perburuan. Ketika aktivitas berburu mampu menyediakan produk yang bernilai bagi konsumen, satwa buruan mulai dipertimbangkan sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga.


Tujuan utama dari aktivitas berburu adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan, sebagai sumber protein hewani. Keuntungan ekonomi pun didapat dengan menjual hewan hidup dan produk yang dihasilkan (daging, kulit, tanduk, telur, taring, ekor dan sebagainya).


Berburu dan mengumpulkan hewan liar telah berlangsung sejak dahulu dan merupakan elemen penting dalam kehidupan masyarakat pedalaman Papua.


Berburu hanya ketika membutuhkan

Aktivitas perburuan di Papua umumnya merupakan perburuan subsistens (mandiri) yang sangat bergantung pada alat buru tradisional dalam menjaga hubungan antara manusia dengan alam.

Bersumber dari Pattiselanno, et al dalam Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol.22 (2015) perburuan subsistens umumnya menggunakan alat buru tradisional yang sederhana dengan tujuan utama menyediakan sumber protein esensial untuk kebutuhan konsumsi keluarga.


Berburu biasanya dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Perburuan dalam kelompok besar biasanya terdiri dari banyak orang dengan bantuan anjing pemburu dan dilakukan pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang pesta adat, budaya ataupun perayaan hari-hari besar keagamaan (Pattiselanno, 2015). Untuk perburuan individu biasanya dilakukan oleh pasangan suami isteri pada saat mereka bekerja di kebun. Pemeriksaan perangkap secara rutin biasanya dilakukan secara individu pada saat yang sama pekerjaan di kebun dilakukan.


Pemburu mengadopsi penggunaan produk hutan seperti kayu, bambu dan rotan untuk membuat jerat, mendesain perangkap, membuat panah, busur dan tombak. Tumbuhan hutan yang elastis mudah untuk dibentuk dan dilengkungkan, sedangkan tumbuhan penghasil serat dapat dianyam sebagai pengganti tali.


Seperti yang dilakukan oleh suku Maybrat, meskipun aktivitas berburu bukan sebagai sumber mata pencaharian utama mereka, namun berburu merupakan hal yang penting bagi masyarakat Maybrat untuk memenuhi kebutuhan akan protein dan daging dalam keluarga. Orang Maybrat mengenal lima cara berburu, yaitu berburu mata, anjing berburu, ilmu berburu, meniru suara binatang dan jerat.


Senjata api, musuh lingkungan hidup

Sayangnya yang terjadi saat ini, berbagai studi menunjukkan bahwa perburuan satwa tidak lagi lestari. Fenomena ini digambarkan sebagai “the empty forest” (Redford, 1992). Penyebabnya antara lain mulai lunturnya kepercayaan turun temurun sehingga perlahan meninggalkan praktek perburuan lestari, semakin terbukanya daerah isolasi tertentu di wilayah Papua, dan maraknya penggunaan senjata api sebagai alat berburu.


Kepemilikan senapan atau senjata ini perlahan semakin meningkat dan marak digunakan dalam perburuan. Dalam penelitian Pattiselanno (2010) terkait suku Maybrat, dijelaskan bahwa suku ini tidak menggunakan senjata api sebagai alat berburu. Senjata api berkaliber besar justru dimiliki dan digunakan oleh masyarakat di luar suku Maybrat serta aparat keamanan yang berasal dari ibukota atau pos-pos keamanan. Pattiselanno juga menjelaskan bahwa senjata ini dipakai untuk berburu rusa dan babi hutan di sekitar lokasi penelitian.


Meningkatnya penggunaan senjata api menyebabkan perburuan satwa yang tidak terkendali. Selain itu, dampak dari pembangunan serta pembukaan lahan secara besar-besaran oleh beberapa perusahaan raksasa dikhawatirkan dapat menyumbang kerusakan sumber daya alam (SDA). Kemungkinan terburuknya adalah potensi SDA termasuk satwa yang hidup di hutan Papua pun lenyap seiring berjalannya waktu.


Untuk mencegah kemungkinan buruk tersebut, masyarakat perlu kembali ke upaya perlindungan yang berlandaskan kearifan tradisional. Konservasi satwa dapat dilakukan melalui pendekatan kearifan lokal dan pengetahuan lokal (indigenous knowledge) masyarakat setempat. Kearifan tradisional adalah sistem sosial, politik, budaya, ekonomi dan lingkungan dalam lingkup komunitas lokal, yang bersifat dinamis serta berkelanjutan.


Penerapan kearifan lokal dalam kegiatan berburu adalah salah satu solusi di tingkat masyarakat adat untuk mendukung perlindungan satwa di Papua. Kearifan lokal yang lahir dari learning by experience, perlu terus dipertahankan dalam kehidupan Papua modern saat ini, dan diturunkan dari generasi ke generasi (Pattinama, 2009).



Penulis: SRM

79 views

Jakarta: @econusa | Papua: @pacebentara | Email : hutanpapua@gmail.com

©2018 @econusa.id for hutanpapua.id