• big.eco

"Kemandirian yang Hilang"

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kemandirian yang Hilang", https://travel.kompas.com/read/2013/12/27/0808199/Kemandirian.yang.Hilang.

Pemerintah pusat dan daerah juga bersama-sama menggelontorkan bantuan langsung masyarakat (BLM). Beginilah kerumitan rumus ”bagi-bagi uang” BLM, terinci menjadi program PNPM Pedesaan, PNPM Perkotaan, PNPM Infrastruktur Pedesaan, dan PNPM Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah. Nilai BLM Papua pada 2013 mencapai Rp 742,7 miliar. Di Papua Barat, program yang sama menggelontorkan dana Rp 255 miliar. Bermanfaat bagi masyarakat? ”Sama sekali tidak,” kata pegiat hak asasi manusia, Pater John Djonga Pr. ”Bantuan uang tunai dan beras miskin menghancurkan etos kerja. Sekitar tahun 1995, Jayawijaya adalah daerah pertanian produktif, yang bahkan mengirimkan banyak hasil bumi ke Jayapura dan Mimika.



Semua itu sekarang tinggal cerita,” kata Pater John Djonga. Ada begitu banyak bantuan uang dan beras miskin diberikan sehingga waktu orang habis untuk mengantre bantuan. Orang semakin malas berkebun, apalagi beternak. Semua berpikir pintas. Toh, ada beras bantuan dari pemerintah. ”Kalaupun tak ada beras miskin, orang di Wamena akan memakai uang bantuan untuk membeli beras yang harganya Rp 19.000 per kilogram itu. Itu tak memberdayakan orang Jayawijaya, yang pada dasarnya adalah petani dan peternak hebat,” ujar Pater John Djonga. Seluruh kekacauan itu digenapi oleh alih fungsi hutan besar-besaran, hasil utak-atik dan corat-coret di peta yang nyatanya juga menguapkan kemandirian pangan orang asli Papua.


Perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Keerom adalah satu contoh alih konversi hutan yang menghilangkan dusun sagu dan hutan perburuan masyarakat adat. Pada tahun 2007, di Arso telah terdapat sekitar 1.500 hektar kebun sawit PT Perkebunan Negara (PTPN) II yang terbengkalai karena telah melewati masa produktif. Tanpa pernah mencari solusi atas lahan sawit mangkrak itu, pada 2008 pemerintah justru menerbitkan izin pembukaan 26.300 hektar hutan di Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom untuk dijadikan kebun sawit. Dari 26.300 hektar hutan yang dijatahkan pemerintah, 18.338 hektar di antaranya telah dikuasai Rajawali Group melalui anak perusahaannya, PT Tandan Sawita Papua. Awal Desember lalu, Yuliana Langwuyo mengajak kami mengunjungi bekas hutan yang telah bersalin wajah menjadi kebun sawit muda itu. ”Perkebunan kelapa sawit PTPN II dibuka pada 1983. Orang Arso adalah masyarakat adat berburu dan meramu, yang selama 30 tahun gagal beralih menjadi pekerja kebun sawit. Masyarakat adat di Arso Timur juga pemburu dan peramu, persis orang Arso. Ketika hutan lumbung pangannya hilang, orang Arso Timur pun mengandalkan beras untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Dulu orang Arso Timur pemilik hutan yang kaya pangan itu. Sekarang mereka hanya menjadi buruh kebun sawit,” kata Langwuyo yang juga staf Sekretariat Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Fransiskan Papua itu. Kondisi itu serupa dengan situasi masyarakat adat Malind-Anim di Merauke, yang hutannya sedang disulap menjadi kawasan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Lewat MIFEE, lagi-lagi hutan Papua bakal disulap menjadi lahan penanaman padi, tebu, dan kelapa sawit. Hanya di beberapa kampung kecil, seperti di Wendu, kurang lebih satu jam perjalanan dari Merauke, dusun sagu masih bertahan. Sambil menggendong Lobeka, anaknya, Agustina mengumpulkan sagu yang telah dipangkurnya di hutan di pinggir Sungai Welderman, Distrik Kaibar, Kabupaten Mappi,


Papua.(KOMPAS/WISNU WIDIANTORO) Di Distrik Okaba yang termasuk cetak biru MIFEE, warga mencoba menahan laju MIFEE dengan menggelar pesta dan lomba membakar sagu. Berbagai sep sagu muncul dengan aneka cita rasa sagu bakar. Mulai dari wanggilamo, berupa sagu bakar berisi daging bercampur parutan kelapa, sampai dengan kumabo yang berupa sagu bakar dari adonan parutan kelapa muda serta pisang. Sekretaris Dewan Adat Wilayah V Ha Anim John Wob mengatakan, percampuran sagu, kelapa, dan daging melambangkan relasi dan persatuan integral antarmarga. Sagu atau Mahuze, kelapa atau Gebze, dan daging babi atau Basik-Basik yang merupakan bagian dari totem marga komunitas Malind Anim menjadi satu keutuhan yang menjadi jaminan bagi kelestarian kehidupan. ”Ketika seorang Malind makan sagu bakar atau sep sagu, sebenarnya ia tidak hanya sedang memenuhi kebutuhan fisik semata, tetapi sekaligus menyatukan diri dengan totemnya. Saat menyantapnya, ia merayakan Mahuze, Gebze, dan Basik-Basik. Yang jasmani dan rohani dipenuhi sekaligus,” kata John Wob. Tak ada yang tahu, sampai kapan Wob dan manusia Malind Anim lainnya bisa merayakan totem-totem mereka…. (Aryo Wisanggeni, Budi Suwarna, Wisnu Widiantoro)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kemandirian yang Hilang", https://travel.kompas.com/read/2013/12/27/0808199/Kemandirian.yang.Hilang.

0 views

Jakarta: @econusa | Papua: @pacebentara | Email : hutanpapua@gmail.com

©2018 @econusa.id for hutanpapua.id