• gina

Mangi Mangi Punya Cerita


Teluk Bintuni / cr @kelanakecil

Perjalanan ke Teluk Bintuni April lalu dilalui oleh tim EcoNusa dan para jurnalis dengan cuaca yang tidak bersahabat saat menuju Sorong. Menikmati kopi khas Papua di ruang tunggu bandara kami saling bercerita seru tentang apa yang pernah kami lalui di Tanah Papua ini, sambil menunggu pesawat Susi Air yang akan membawa kami bersama-sama ke Kabupaten Teluk Bintuni. Kabupaten yang berada di Provinsi Papua Barat ini memang terkenal sebagai penghasil gas. Namun tahukah kamu bahwa Teluk Bintuni memiliki hutan bakau yang luas?


Nicolaus Lettungun, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Kabupaten Bintuni, menjelaskan kepada Tim EcoNusa bersama media yang sempat mengunjungi kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni, bahwa luas hutan bakau di wilayah ini yakni 225.367 hektare. Jumlah ini merupakan 52% dari jumlah keseluruhan hutan bakau yang ada di Papua Barat.


Nicolaus juga menceritakan tentang Festival Mangrove yang rencananya akan diselenggarakan pada November 2019. “Pemerintah berharap destinasi wisata dan festival mangrove ini bisa mengangkat ekonomi kerakyatan. Intinya tujuan kita adalah mensejahterahkan masyarakat. Bangun pagi kita tidak membicarakan gas, tapi membicarakan mangrove,” ungkapnya.

Pengembangan ekowisata di Bintuni juga sudah dilakukan. Seperti Kampung Masina yang menjadi kawasan ekowisata berbasis adat.” Nicolaus melanjutkan bahwa daerah Wamesa, desa Kuri, bahkan daerah Sebyar dan Babo diperkirakan akan menjadi daerah ekowisata yang cukup besar. “Kesulitannya hanya ada pada beberapa daerah yang masih sangat sakral,” katanya.


Bintuni juga terkenal akan kepiting dan udang yang menjadi mata pencaharian masyarakat di sini. Seperti yang dikatakan Ida Padwa, salah satu peserta Pelatihan Budidaya dari Dinas Perekenomian yang sudah melakukan budidaya udang dan kepiting bakau sejak tahun 2016. “Keahlian saya di dapat dari penelitian ini. Udang saya buat menjadi stik udang dan kepiting saya buat menjadi tortilla,”jelasnya.



Mama Ida Padwa

Ida Padwa juga menceritakan tentang produknya ini. “Biasanya kami mempromosikan dengan kerjasama dengan Bank Indonesia atau kadang ibu bhayangkara yang pesan untuk pameran.” Ida biasanya menjual dengan harga Rp 15.000 dalam kemasan 200 gram dan mendapat keuntungan sebesar Rp 5.000.


Stik Udang oleh Mama Ida

Setelah bertemu Ida Padwa, kami mengunjungi Rakiba dari Distrik Babo. Di distrik ini ia bergabung pada Kelompok Magote yang menangkap kepiting di sekitar hutan bakau menggunakan alat bernama Kerambat. “Saya biasanya pagi-pagi menyiapkan kerambat dan juga umpan. Umpannya itu ikan hiu kecil, lalu saya ke bakau dan saya letakkan di sana. Siang atau sore saya kembali mengambilnya,” cerita Rakiba.


Mama Menyiapkan Alat Kerambat untuk Menangkap Kepiting

Rakiba mengatakan sehari ia bisa mendapatkan 50 ekor kepiting dengan jenis dan ukuran yang berbeda-beda. Kepiting itu pun nantinya dijual ke penadah yang ada di sekitar Distrik Babo. Di Distrik Babo sendiri terdapat 5 Kelompok yaitu: Kelompok Magote (menangkap kepiting), Kelompok Kekeru (pembuat abon kepiting), Kelompok Maiteva (ekowisata), Kelompok Orase (penanaman bakau), dan Kelompok Neromote (pendampingan untuk turis dan bupati). Kelima kelompok ini didampingi oleh LSM Panah Papua yang juga bekerja sama dengan EcoNusa untuk membantu melancarkan budidaya yang sedang dijalankan agar masyarakat dapat sejahtera.




penulis: Gina A.

0 views

Jakarta: @econusa | Papua: @pacebentara | Email : hutanpapua@gmail.com

©2018 @econusa.id for hutanpapua.id