• gina

Pesona Peninggalan Sejarah di Papua


Tank Perang Dunia II / cr: tempo.co

Tanah Papua bukan saja bagian dari wilayah Indonesia yang memiliki kenakeraman hayati tinggi, namun Papua juga menyimpan begitu banyak peninggalan bersejarah. Provinsi Papua dan Papua Barat kaya akan situs sejarah perjalanan perkembangan peradaban bangsa Indonesia. Aspek Gold, Gospel dan Glory (3G) pun tidak luput dari perkembangan sejarah Papua.

Beberapa media menyebutkan bahwa telah ditemukan beberapa tank berjenis amfibi dan artileri peninggalan perang dunia ke II yang teronggok untuh berbalut rerumputan akar dan tumbuhan liar, ditemukan di tengah hutan rimbun Kabupaten Tambrauw (dilansir dari berbagai situs). Oleh masyarakat lokal situs bersejarah tersebut dijadikan sebagai aktivitas pariwisata.


Bercermin dari pemberitaan tersebut bahwa tidak heran jika di Papua masih banyak ditemukan peninggalan bersejarah. Dikutip dari berbagai sumber bahwa situs purbakala tertua yang ditemukan di Papua adalah peninggalan jaman pra sejarah pada 30.000 hingga 40.000 tahun sebelum masehi, hal ini menandakan adanya kehidupan manusia pada masa lampau. Adapun situs purbakala tersebut antara lain berupa gua-gua dimana terdapat banyak lukisan dan fosil-fosil moluska atau cangkang kerang.


Terdapat pula peninggalan megalitik seperti kuburan, tembok-tembok benteng dan tempat-tempat sesaji yang tersebar di pulau-pulau kecil seperti Pulau Adi, Namatota, Petipi, Fu-um, Ora, Bantata, Sorong dan Numfor. Ditemukan juga gambar-gambar atau goresan pada batu-batu karang, berupa gambar manusia, hewan seperti kadal, ikan dan kura-kuram, juga gambar matahari. Penemuan arkeologi ini merupakan bukti dari perjalanan sejarah migrasi manusia ke Papua (jurnalarkeologipapua.kemdikbud.go.id).


Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, situs arkeologi dari zaman kolonial juga banyak ditemukan di beberapa daerah di Papua. Mulai dari peninggalan penjajahan Belanda yakni sekitar tahun 1900-an, hingga Perang Pasifik di tahun 1940-an.


Adanya kehadiran kolonial Belanda di Papua berawal dengan didirikannya Benteng Fort Du Bus di Teluk Triton pada tahun 1828. Kekuasaan pemerintah jajahan Belanda mulai pada abad ke-19 meninggalkan rumah sakit, rumah bulat, tempat beribadah, sekolah dan gedung perkantoran. Sedangkan pada tahun 1944 tentara sekutu mendarat di Papua di pimpin oleh Jenderal Douglas Mac Arthur, peninggalanyanya berupa tugu Mac Arthur yang berada di Ifar Gunung.


Sedangkan pada masa penjajahan Jepang tahun 1940, terdapat banyak peninggalan berupa gua-gua Jepang. Berdasarkan kajian ilmiah yang ditulis oleh Saberia (2017) dalam Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat, yang berjudul “Peninggalan Jepang di Sarmi Papua”, mengungkapkan bahwa kehadiran Jepang di Indonesia pada tahun 1942 dilatar belakangi oleh keinginan Jepang untuk menguasai seluruh wilayah Asia. Jepang sudah lama menaruh mata-mata di Indonesia, melalui adanya perahu-perahu penangkap ikan milik Jepang yang sering mengunjungi perairan Indonesia termasuk perairan Papua.


Sedikit membahas mengenai sejarah keberadaan Jepang di Papua, diawali dari pemerintah Belanda (pada saat itu) yang memberikan izin kepada para pengusaha, termasuk para pengusaha dari Jepang untuk mendirikan usaha yang membutuhkan tenaga kerja yang besar. Beratnya pembangunan yang harus dilaksanakan oleh pemerintah Belanda atas daerah Papua yang dikenal besar dan luas, mengakibatkan Belanda menghadapi kesulitan.


Hal itu menjadikan Jepang mempunyai kurang lebih 1100 tenaga kerja, untuk usaha yang dibuat oleh Jepang. Nyatanya keberadaan Jepang di Papua bukan hanya untuk membangun perusahaan, akan tetapi melakukan pengamatan mengenai kondisi geografis, serta tentang sejauh mana kekuatan Belanda di Papua.


Dalam kajian ilmiah Saberia menerangkan bahwa terdapat bukti-bukti dengan adanya sisa-sisa peninggalan Jepang, salah satu sisa peninggalan Jepang tersebut, yakni terdapat di Kampung Tanjung Batu yang terletak di Sarmi Timur. Sarmi merupakan daerah di antara Sungai Mamberamo dan Sungai Tor, yang keduanya mengalir ke arah pantai utara Papua dan bermuara di Samudera Pasifik. Kampung Tanjung Batu menjadi salah satu pilihan Jepang, karena dipandang cukup strategis, letaknya berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik, yang dapat melihat atau memantau langsung ketika ada yang datang.


Selain kehadiran Jepang dan kolonial Belanda, peninggalan kerajaan dan masuknya penyebaran agama juga ditemukan di Papua. Diperkirakan agama Islam masuk di daerah pesisir pantai bagian utara, bagian selatan, dan bagian barat Papua, serta daerah kepulauan lainnya pada abad 15-16. Dalam abad tersebut daerah yang berada di pantai bagian barat, utara, dan selatan Kepala Burung, hingga Namatota (Fakfak), serta pulau di sekitar Kepulauan Raja Ampat, kepulauan yang berada di Teluk Bintuni, Teluk Etna, dan Teluk Arguni berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Tidore, yang merupakan kerajaan Islam.


Adanya seluruh peninggalan bersejarah ini membuktikan bahwa Papua tidak hanya unik melalui keanekaragaman hayatinya saja, namun kaya akan sumberdaya arkeologi. Situs-situs bersejarah ini sangat berpotensi menambah pendapatan daerah. Peninggalan-peninggalan tersebut dapat diusulkan menjadi situs cagar budaya dan dapat dikembangkan menjadi objek wisata sejarah.


Namun perlu diingat bahwa apabila peninggalan-peninggalan itu punah atau rusak maka generasi saat ini juga generasi mendatang dikhawatirkan tidak dapat lagi menikmati warisan sejarah Papua. Oleh karenanya, mari bersama-sama melestarikan warisan sejarah Papua!



Penulis: SRM

Sumber artikel:

https://jurnalarkeologipapua.kemdikbud.go.id/index.php/jpap/article/viewFile/133/131


Saberia. 2017. Peninggalan Jepang di Sarmi Papua. Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat. https://jurnalarkeologipapua.kemdikbud.go.id/index.php/jpap/article/view/215

http://alpensteel.com/article/127-114-artikel-non-energi/1200--papua-barat-kaya-akan-situs-sejarah

33 views

Jakarta: @econusa | Papua: @pacebentara | Email : hutanpapua@gmail.com

©2018 @econusa.id for hutanpapua.id