• gina

Pinang, Simbol Keakraban Masyarakat Papua


Pinang Papua / cr: IndonesiaKaya.com

Membahas mengenai keanekaragaman hayati, Tanah Papua merupakan rumah bagi lebih dari sepertiga hutan utuh di Indonesia. Hutan di Tanah Papua merupakan salah satu penyusun formasi hutan hujan tropis Indo-Malaya yang kaya akan jenis, marga dan famili yang khas. Oleh karenanya, masih banyak masyarakat adat Papua yang menggantung hidupnya dengan alam.


Salah satu hasil alam di Tanah Papua yang memiliki banyak peran bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Papua adalah ‘Pinang’. Pinang merupakan tanaman famili Arecaceae yang juga terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia.


Menurut Prof. Charlie D. Heatubun, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua (Unipa), dalam kajiannya di Jurnal Phytotaxa menjelaskan bahwa beragam spesies tumbuhan pinang di Kepulauan New Guinea (Papua) dan Salomon itu berasal dari India dan China bagian Selatan melalui Malaysia, dan memiliki jumlah sekitar 50 spesies (Nugroho, 2016).


Diolah dari berbagai sumber ilmiah, umumnya pinang tumbuh pada segala jenis tanah, namun lebih cocok pada tanah yang banyak mengandung unsur hara yang tidak berbatu dan berkapur pada ketinggian tanah yag ideal pada kisaran 0 – 700 meter dpl (di atas permukaan laut). Untuk tumbuh maka pinang memerlukan sinar matahari yang cukup, tanpa genangan air dan dengan suhu antara 200C-300C. Oleh karenanya, tanaman ini lebih banyak dijumpai di daerah pesisir pantai dari pada pegunungan.


Pinang kaya akan kandungan kimia. Biji buah pinang mengandung alkaloid, flavonoid dan tanin. Air rebusan dari biji buah pinang digunakan untuk mengatasi penyakit seperti datang bulan berlebihan (haid), hidung berdarah (mimisan), luka koreng dan borok, bisul, eksim, kudis, cacingan, diare, dan disentri. Adapun umbut pinang dapat dimakan sebagai lalap dan mengobati patah tulang dan sakit pinggang.


Pelapah daun pinang dapat juga digunakan sebagai pembungkus makanan dan bahan campuran untuk pembuatan topi. Biji dan kulit bagian dalam dapat digunakan untuk menguatkan gigi goyah, bersama-sama dengan sirih, umumnya masyarakat Papua memilih pinang yang muda.


Keunggulan lain dari pinang yaitu dapat mempererat simbol kekeluargaan dan kesatuan masyarakat Manokwari, Papua Barat. Berdasarkan disertasi Yuliana, Universitas Hasanuddin dengan judul “Pinang dalam Kehidupan Orang Papua Di Kota Jayapura” (2018), menjelaskan bahwa tradisi atau kebiasaan mengunyah buah pinang merupakan bagian dari budaya material, yang digunakan dengan beragam fungsi yang terwujud dalam pola-pola perilaku, berdasarkan pengetahuan lokal orang Papua.

Sebagai sebuah kebiasaan yang diterima dan menyatu dalam kehidupan orang Papua, maka mengunyah pinang tak sekedar bagian dari kebiasaan yang telah mengakar tapi juga telah menjadi sebuah identitas budaya yang melekat pada orang Papua. Bahkan nama buah ini pun dipakai untuk menghimpun orang-orang Papua yang hendak berbagi cerita atau pengalaman hidup (para-para pinang). Para-para pinang sama dengan warung kopi di daerah lain yang kerap menjadi tempat berkumpul dan berbagi cerita bahkan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan. Hadirnya kedai pinang bagi orang Papua sering menjadi tempat pertemuan mereka untuk berbagi pengalaman, obrolan santai, dan lain-lain


Terkait keanekaragaman hayati, Prof. Charlie D. Heatubun yang juga Kepala Pusat Puslit Kehati Unipa mengemukakan bahwa terdapat lima jenis tanaman buah pinang baru yang ditemukan, dan salah satunya diberi nama “Areka Jokowi” (dilansir pada laman papuabarat.antaranews.com).


Pinang jenis baru ini merupakan hasil ekspedisi pada tahun 2015 yang dilakukan di wilayah perbatasan antara provinsi Papua dan Papua Barat. Pemberian nama Areka Jokowi dipilih sebagai bentuk penghargaan Universitas Papua (Unipa) kepada Presiden Joko Widodo yang memberi perhatian sangat besar terhadap Papua.





Penulis: Sarah Rosemery Megumi

Sumber:

https://www.jubi.co.id/trivia-pinang-modal-bersosialisi-di-papua-dan-10-faktanya/

0 views

Jakarta: @econusa | Papua: @pacebentara | Email : hutanpapua@gmail.com

©2018 @econusa.id for hutanpapua.id