• gina

Sagu, Pangan Lokal Unggulan Papua Untuk Papua


Ulat Sagu @ Festival Ulat Sagu, 2018 / cr: EcoNusa

Pangan lokal Papua adalah pangan yang diproduksi di Papua dengan tujuan ekonomi atau produksi. Kondisi agroekosistem Papua sangat mendukung pengembangan komoditas pertanian, terutama komoditas pangan spesifik lokal. Sumber pangan spesifik lokal Papua seperti ubi jalar, talas, gembili, sagu, dan jawawut telah dibudidayakan oleh masyarakat asli Papua secara turun-temurun.


Dalam hal ini adalah Sagu (Metroxylon sagu Rottb) merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat Papua, terutama yang berdomisili di dataran rendah atau di pesisir pantai atau danau. Potensi sagu di Indonesia mencapai kurang lebih 50% dari sagu dunia. Secara alami tumbuhan sagu tersebar 17 hampir di setiap pulau di Indonesia dengan luasan terbesar berpusat di Papua, sedangkan sagu semi budidaya terdapat di Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Sagu juga tumbuh baik pada daerah rawa, meskipun dapat pula tumbuh di daerah kering.


Sagu termasuk salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK), yang memegang peranan penting dalam mendukung program diversifikasi sebagai pendamping beras selain jagung dan umbi-umbian. Sayangnya masyarakat lokal setempat (Papua dan Papua Barat) mulai bergantung pada sumber pangan beras karena selain dianggap ‘enak’ juga mudah diperoleh.


Hal tersebut merupakan salah satu dampak kebijakan pemerintah yang hanya terfokus pada terjaminnya ketersediaan beras. Kebijakan tersebut tanpa disadari telah mengubah menu karbohidrat masyarakat dari nonberas ke beras, terutama pada daerah yang secara tradisional mengonsumsi pangan bukan beras, khususnya di kawasan timur Indonesia.


Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Indonesia 2018 yang dikeluarkan oleh Badan Ketahanan Pangan, Provinsi Papua Barat berada di area rawan pangan. Rata-rata skor IKP kabupaten/kota di Papua Barat berada dibawah skor indeks 50 dari skor indeks 100. Kabupaten Tambrauw memiliki nilai skor paling rendah, yakni 26,03. Disusul Kabupaten Pegunungan Arfak 30,25; Kabupaten Maybrat 32,55; Kabupaten Teluk Wondama 33,22; dan Kabupaten Teluk Bintuni 37,23.


Ditemui dalam kegiatan Focus Group Discusion (FGD) Pangan dan Tata Guna Lahan (FOLU) yang diselenggarakan oleh Yayasan EcoNusa dan World Resource Institute (WRI) Indonesia, Manokwari, Papua Barat, akademisi Universitas Papua Zulfikar Mardiyadi mengatakan, perilaku konsumsi pangan masyarakat Papua Barat telah berubah. Sagu dan ubi tak lagi dianggap sebagai makanan pokok. Papua Barat telah menyamai berbagai provinsi lain di Indonesia yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap beras.


“Walau pun ubi ada, sagu ada, tapi ketergantungannya sudah di atas 95 persen. Praktis kalau kita ke rumah-rumah di mana pun di pedalaman Papua Barat sudah jarang ditemui masyarakat mengonsumsi umbi-umbian. Umbi-umbian menjadi selingan dan beras menjadi utama,” kata Zulfikar.


Padahal jika ditelaah betul-betul bahwa pati sagu dapat menghasilkan karbohidrat dengan jumlah yang sangat banyak. Hal ini telah dibuktikan melalui beberapa studi dan penelitian ilmiah. Menurut kajian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), tahun 2017, menjelaskan bahwa pati sagu merupakan bahan pangan yang potensial dan mampu menghasilkan potensi karbohidrat yang sangat banyak. Pati sagu dapat digunakan sebagai makanan pokok, bahan baku makanan ringan (empek-empek, bakso, onde-onde, dodol, dan cendol), dan bahan baku untuk beberapa industri makanan.


Dalam kajian BPPT menggambarkan bahwa kebutuhan beras di Indonesia saat ini sekitar 30.2 juta ton/tahun untuk jumlah penduduk sekitar 229 juta jiwa, hal ini berarti konsumsi beras orang Indonesia sekitar 132 kg/kapita/tahun. Apabila pertumbuhan populasi penduduk Indonesia sebesar 2% per tahun maka pada tahun 2025 penduduk Indonesia akan meningkat menjadi 300 juta jiwa. Apabila produksi beras tidak meningkat maka pada tahun 2025 kekurangan beras akan sebanyak 18 juta ton. Untuk menyikapi hal tersebut perlu dicari tanaman sumber karbohidrat lain, dimana dalam hal ini adalah sagu.


Sagu menghasilkan 200-400 kg pati/pohon, bahkan ada yang menghasilkan 800 kg pati/pohon. Apabila penanaman sagu dilakukan secara intensif dengan populasi sekitar 100-200 pohon/ha yang tiap pohon diasumsikan menghasilkan 300 kg pati, maka dalam satu hektar tanaman sagu akan diperoleh 30-60 ton pati. Dengan demikian, untuk memenuhi kalori 200 juta penduduk Indonesia hanya dibutuhkan satu hektar tanaman sagu, tentunya ini menguntungkan Papua sebagai wilayah dengan sentra keragaman genetik sagu terbesar di dunia.



Penulis: Sarah Rosemery Megumi


Sumber:

PEMANFAATAN KOMODITAS PANGAN LOKAL SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF DI PAPUA. A. Wahid Rauf dan Martina Sri Lestari. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua.


POTENSI DAN KENDALA PENGEMBANGAN SAGU SEBAGAI BAHAN PAKAN, PANGAN, ENERGI DAN

KELESTARIAN LINGKUNGAN DI INDONESIA. Arif Dwi Santoso. Pusat Teknologi Lingkungan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

0 views

Jakarta: @econusa | Papua: @pacebentara | Email : hutanpapua@gmail.com

©2018 @econusa.id for hutanpapua.id